Rabu, 22 Mei 2013

Mengukur panjang foetus


LAPORAN PRATIKUM
“CARA MENGUKUR PANJANG FOETUS”


Kelompok I


AHLUL KARMI
ANNA FARIDA
CUT ERIKA
DEBY NOVITA
NELLY KARTIKA
PUTRI DEWI
RAMA JUWITA FITRI
TRIMARSIDAH







FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH




KATA PENGANTAR


Puji Syukur penulis ucapkan terhadap kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga berkat karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan paratikum  "CARA MENGUKUR PANJANG FOETUS" tanpa ada halangan yang berarti dan selesai tepat pada waktunya.
Dalam Penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada
1.    Drh. Dian masyitah,M.P sebagai kepala laboratorium embriologi
2.    Awaluddin sebagia coordinator asisten laboratorium embriologi
3.    Ira khubaira sebagai asisten  laboratorium embriologi
4.    Teman-teman yng telah berpatisiasi dalam prtaikum embriologi
Penulis sadar laporan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis berharap kritik dan saran semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan seluruh pembaca pada umumnya.
Banda Aceh, 19 Mei 2013
                                                                       


                                                                                                                                  Penulis 



Embrio dan foetus berkembang mengikuti suatu pola tertentu. Pada awalnya, jumlah sel meningkat diikuti oleh diferensiasi dan perkembangan berbagai system organ. Pada berbagai ternak memiliki perkiraan umur yang berbeda-beda.







BAB I

PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan individu baru selama kebuntingan merupakan hasil dari perbanyakan jumlah sel, pertumbuhan, perubahan susunan serta fungsi sel. Peristiwa tadi mempengaruhi perubahan-perubahan tertentu, beberapa di antaranya merupakan ciri dari tahap perkembangannya. Meskipun perkembangan anak dalam kandungan berlangsung terus menerus, namun kebuntingan kadang-kadang dinyatakan terdiri dari 3 tahap yaitu periode ovum, periode embrio dan periode fetus.
Berdasarkan uraian diatas, sebagai mahasiswa harus memahami benar tentang metode pengukuran panjang foetus untuk mengetahui umur dari masing-masing tenak . Dalam makalah ini akan dibahas mengenai foetus, fase foetus dan metode pengukuran umur foetus.

1.2     Tujuan

1.      Bagaimana tahap pertumbuhan foetus?
2.      Bagaimana cara menentukan umur foetus pada berbagai hewan ternak?
3.      Metode apa yang digunakan untuk menentukan umur foetus?

1.3     Manfaat

Mahasiswa mengetahui rasio ukuran foetus dan berat foetus berdasarkan usia kebuntingan.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Foetus adalah mamalia yang berkembang setelah fase embrio dan sebelum kelahiran Dalam bahasa latin, fetus secara harfiah dapat diartikan "berisi bibit muda, mengandung". (anonimus.2011)
Fetus adalah hasil akhir dari suatu proses diferensiasi secara teratur yangmerubah zigot bersel 1 menjadi suatu reflikasi dari jenis hewan yangbersangkutan. Selama permulaan cleavage pada suatu sel telur yang telah dibuahi,ukuran sel tersebut berkurang secara progresif dengan sedikit perubahan bentuk.Selama akhir perkembangan embrional ukuran sel tidak merubah secara nyatasedangkan jumlah sel bertambah (Feradis, 2010).
Periode ini di mulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam,terbentuknya ekstremitas, hingga lahir. Pada sapi periode ini terjadi pada hari ke45 dan selama periode ini terjadi perubahan dan diferensiasi organ, jaringan, dansistem tubuh (Toelihere, 1979).

Pertumbuhan prenatalis pada sapi dimulai sejak terjadinya konsepsi yakni saat pertemuan sel telur betina dengan sel jantan, bersatunya sel jantan dan sel telur tadi mengasilkan calon individu baru di dalam kandungan yang disebut embrio atau foetus. Pada awal kebuntingan pertumbuhan foetus berjalan sangat lambat, sedangkan pada akhir kebuntingan pertumbuhan berlangsung sangat cepat. Foetus, hampir 2/3 bagian bagian pertumbuhan hanya berlangsung 1/3 dari dari seluruh waktu yang digunakan dalam kandungan  (Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Periode kebuntingan dapat di bagi secara kasar dalam tiga bahagian, berdasarkan ukuran individu dan pekembangan jarigan dan organnya. Ketiga periode itu adalah ovum, embrio dan foetus. Periode ovum atau blastula berlangsung 10 – 12 hari, selak waktu pembuahan yang biasanya terjadi beberapa jam sesudah ovulasi sampai pembentukan membrane zygote dalam uterus. Periode embrio/foetus atau organogenesis berlangsung 12 – 45 hari masa kebuntingan. (Barnes, Waikel Villee. 1984)
Selama periode ini, organ dan system utama tubuh berbentuk dan terjadi perubahan- perubahan dalam bentuk tubuh sehingga pada akhir periode ini spesies embrio/foetus tersebur dapat dikenal. (Anonim. 2006)
Periode foetus dan pertumbuhan foetus berlangsung dari hari ke-45 masa kebuntingan sampai partus. Selama periode ini terjadi perubahan- perubahan kecil dalam diferensiasi organ, temuan, dan system bersamaan dengan pertumbuhan dan pematangan individu antenatal. Selama periode ini caruncel dan cotyledon berkembang dan membesar untuk mensuplai makanan bagi foetus. Pertambahan berat foetus dari hari ke-120 sampai hari ke-270 adalah tiga kali lebih besar dari pada pertambahan berat badan dari waktu pembuahan sampai hari ke-120 masa kebuntingan. Pada permulaan periode foetus terbentuk kelopak mata, osifikasi tulang dimulai, dan perubahan- perubahan cepat terjadi pada rupa dan ukuran kaki. (Patten, M. Bradley. 1964)
Pada masa akhir kebuntingan anak ternak yang normal telah berkembang sedemikian rupa sehingga ia sanggup hidup di lingkungan cairan dan saluran pencernaan serta saluran pernafasannya siap untuk mulai fungsi dan tanggung jawabnya.









BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1         Alat dan Bahan
1.        Baki alumunium
2.        Penggaris
3.        Pinset
4.        Foetus sapi atau kambing yang telah diawetkan

3.2         Cara Kerja

1.      Foetus yang telah disediakan dikeluarkan dari dalam stoples dan diletakkan di atas baki alumunium
2.      Dilakukan pengukuran dengan cara CC-R dan SC-R
3.      Pengukuran CC-R dilakukan dengan cara mengukur panjang saluran tubuh foetus dimulai dari pangkal ekor berbentuk kurva sampai forehead
4.      Pengukuran SC-R dilakukan dengan cara mengukur panjang tubuh foetus mulai dari pangkal ekor berbentuk garis lurus sampai forehead. Cara ini yang sering digunakan
5.      Catat hasil pengukuran












BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
       CCR

SCR

Metode
Umur
Hari
Bobot-badan (kg)
Panjang (cm)
Panjang
Ratio

Ratio
kepala
tubuh
Kd
Kb
C-C-R
180
5kg-8kg
62
14,5         47,5
14,5:47,5
30        32
15:16
S-C-R
180
5kg-8kg
48
19             29
19:29
27       29
27:27


4.2  PEMBAHASAN

Kebuntingan berarti keadaan dimana anak sedang berkembang di dalam uterus seekor hewan betina. Suatu interval waktu, yang disebut periode kebuntingan (gestasi), dimulai dari saat pembuahan (fertilisasi) ovum, sampai lahirnya anak. Hal ini mencakup fertilisasi, atau persatuan antara ovum dan sperma; nidasi atau implantasi, atau perkembangan membran fetus; dan berlanjut ke pertumbuhan fetus (Frandson, 1992).
   Yang dimaksud periode ovum adalah ovum yang diovulasikan sampai terjadinya fertilisasi. Dari sejak fertilisasi, implantasi sampai terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam disebut periode embrio; sedangkan  Seluruh penghidupan makhluk baru dalam uterus disebut periode embrio (Partodihardjo, 1982).

Keadaan Karakteristik foetus (bovine)
Dalam Masa Kandungan


UMUR (BULAN)
PANJANG FOETUS (cm)
BERAT (g)
SIFAT FETAI/PLASENTA
1
0,8-1
0,3-0,5
Pucuk kepala dan kaki jelas, plasenta belem bertaut
2
6-8
10-30
Pucuk teracak, skrotum kecil, plasenta terpaut
3
13-17
200-400
Rambut pada vivir, dagu, dan kelopak mata, skrotum pada jantan
4
27-32
1000-2000
Teracak, berkembang warna kuning, ada legok bakal tanduk
5
30-45
3000-4000
Rambut pada alis, bibir, testes dalam skrotum, puting susu
6
40-60
5000-10000
Rambut dibagian dalam telinga, sekeliling legok tanduk, ujung ekor, dan moncong
7
55-25
8000-18000
Rambut pada meta tarsal, meta carpal phalanx dan punggung, rambut panjang pada ekor
8
75-85
15000-25000
Rambut pendek, halus diseluruh tubuh
9
20-100
20000-50000
Rambut panjang sempurna diseluruh tubuh, gigi seri normal, foetus besar

Foetus yang banyak pada jenis hewan monotokus mempunyai masa kebuntingan yang lebih singkat. Anak sapi kembar berada dalam kandungan 3-6 hari kurang dari anak sapi tunggal. Faktor yang mempengaruhinya yaitu: lingkungan, perpanjangan masa kebuntingan  pada kuda sesudah perkawinan di musim dingin dinyatakan disebabkan oleh penundaan implantasi. Akan tetapi, perbedaan musim tidak mempengaruhi masa kebuntingan pada sapi perah.
Kelenjar hormon yang terlibat dalam fase kebuntingan: corpus luteum, plasenta, folikel, hipotalamus dan hipofisa. Kelenjar endokrin yang lain, misalnya thyroid, adrenal dan sebagainya.
 Amnion  adalah selaput yang menylubungi fetus bagian paling dalam Amnion berfungsi sebagai pelindung embrio/fetus menjadi kering, mencegah perlekatan embrio atau foetus terhadap selaput lain, dan sarana pengangkut zat makanan dan oksigen ke foetus, chorion adalah selaput yang menyelubungi fetus bagian paling luar, alllantois adalah selaput antaraamnion dan chorion. . Alantois berfungsi sebagai kantung air kencing ekstra emrional dan sarana penampung sisa hasil metabolisme. Bentuk plasenta induk adalah endometrium uterus yang dikenal dengan Korunkula, dan bagian plasenta foetus adalah chorioallantois dikenal dengan kotiledon. (Sumaryadi, 2003)
Menurut Frandson tahun 1992, uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri  dari corpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk atau kornua. Pada uterus sapi tampak relatif lebih besar dibandingkan dengan keadaan yang sebenarnya, karena bagian kaudal dan tanduk tergabung dengan ligamen interkornual. (Toelihere, 1981)
Fase foetus ditentukan mulai dari terbentuknya organogenesis dan terbentuknya anggota gerak (ekstremitas) sampai foetus lahir. Tingkat perkembangan foetus saat ini telah dapat mengekstraksi zat-zat makanan dari sistem sirkulasi induk dengan perantara plasenta.
Hasil yang di dapat setelah melakukan praktikum “ metode pengukuran panjang foetus”
Dengan metode :
a)      Curved Crown-Rump (CC-R)                                                                                    Yaitu pengukuran dilakukan dengan cara mengukur panjang seluruh tubuh foetus dimulai dari pangkal ekor berbentuk garis kurva forehead. (cara ini tidak lazim digunakan).
b)      Sraight Crown-Rump (SC-R)                                                                                     Yaitu dengan mengukur panjang tbuh foetus dimulai dari pangkal ekor berbentuk garis lurus sampai forehead. (Cara inilah yang sering digunakan).

Kriteria utama untuk menentukan umur foetus adalah waktu kopulasi dan ovulasi atau berat dan panjang foetus, suatu pengukuran diambil dari ujung hidung sampai ekor melalui punggung pada suatu daratan sagital. Panjang kaki atau kepala dipakai dalam penentuan umur foetus sapi . semua metode ini dapat bervariasi karena waktu ovulasi yang tepat tidak dapat ditentukan, sedangkan pengukuran berat dan panjang foetus tergantung pada bagian bangsa,  strain, umur induk, ukuran litter dan musim kelahiran.








BAB V
PENUTUP

KESIMPULAN
1.      Uterus merupakan tempat pertumbuhan fetus. Uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri  dari corpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk atau cornua.
2.      Foeus yang diukur adalah foetus umur 180 hari, dan berat badan berkisar antara 5kg-8kg.
3.      Dua metode yang digunakan dalam pengukuran panjang foetus (CC-R) dan SC-R.









DAFTAR PUSTAKA


Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Partodihardjo, Soebadi. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara. Jakarta.


Salisbury, G. W. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Iseminasi Buatan Pada Sapi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sumaryadi, Mas Yedi dkk. 2003. Ilmu Reproduksi Ternak. Fapet Unsoed. Purwokerto

Toelihere, Mozes. R. 1977. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung


Tim Pengajar Embriologi. 2013. Penuntun praktikum histologi.Fakultas kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar