Kamis, 20 Juni 2013




Annyeong haseyo ^_^



Kami kelompok I gelombang 3

dengan pembimbing Kak Ira Khubaira Marpaung




Memperkenalkan anggota kelompok kami

check it out




Rama Juwita Fitri 



1202101010014



 Kelas C




Putri Dewi



1202101010018



Kelas B




Ana Farida



1202101010038



Kelas D




Debby Novita Ayumi



12020101010070



Kelas B




Cut Erika Ramadhana



1202101010068



Kelas B




Tri Marsidah



12021010100



Kelas A






Nelly Kartika Hsb



1202101010072



Kelas B



Ahlul Karmi



12021010100



Kelas



Selamat Menikmati Blog ini ya ...




Semoga Bermanfaat 



Gamsahamnida

Rabu, 22 Mei 2013




LAPORAN PRATIKUM
MEMBUAT PERSEDIAAN SPERMATOZOA


Kelompok I

AHLUL KARMI
ANA FARIDA
CUT ERIKA
DEBY NOVITA
NELLY KARTIKA
PUTRI DEWI
RAMA JUWITA FITRI
TRIMARSIDAH







FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH




KATA PENGANTAR


Puji Syukur penulis ucapkan terhadap kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga berkat karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan paratikum  "MEMBUAT PERSEDIAAN SPERMATOZOA" tanpa ada halangan yang berarti dan selesai tepat pada waktunya.
Dalam Penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada
1.    Drh. Dian masyitah,M.P sebagai kepala laboratorium embriologi
2.    Awaluddin sebagia coordinator asisten laboratorium embriologi
3.    Ira khubaira sebagai asisten  laboratorium embriologi
4.    Teman-teman yng telah berpatisiasi dalam prtaikum embriologi
Penulis sadar laporan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis berharap kritik dan saran semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan seluruh pembaca pada umumnya.
Banda Aceh, 23 Mei 2013
                                                                       

                                                                                                                                Penulis 





BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
                Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari Bahasa Yunani Kuno yang berarti benih dan makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi jantan.
Sperma adalah sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas membawa informasi genetik jantan ke sel telur dalam tubuh betina. Spermatozoa berbeda dari telur yang merupakan sel terbesar dalam tubuh organisme adalah gamet jantan yang sangat kecil ukurannya dan mungkin terkecil. Spermatozoa secara struktur telah teradaptasi untuk melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu menghantarkan satu set gen haploidnya ke telur dan mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur
Sel-sel sperma sebenarnya hanya merupakan inti yang berflagelum. Sperma dihasilkan dalam testis oleh sel-sel khusus yang disebut spermatogonia. Spermatogonia yang bersifat diploid ini dapat membelah diri secara mitosis membentuk spermatogonia atau dapat berubah menjadi spermatosit. Meiosis dari setiap spermatosit menghasilkan empat sel haploid ialah, spermatid. Spermatid ini dalam proses tersebut, kemudian kehilangan banyak sitoplasma dan berkembang menjadi sperma. 

1.2   Rumusan Masalah
Bagaimana struktur morfologi spermatozoid pada sperma sapi dan sperma mencit.

1.3   Tujuan Praktikum
Untuk mengenal bentuk spermatozoa






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sperma adalah sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas membawa informasi genetik jantan ke sel telur dalam tubuh betina. Spermatozoa berbeda dari telur yang merupakan sel terbesar dalam tubuh organisme adalah gamet jantan yang sangat kecil ukurannya dan mungkin terkecil. Spermatozoa secara struktur telah teradaptasi untuk melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu menghantarkan satu set gen haploidnya ke telur dan mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur  (Guyton, 2006).
Sel-sel sperma sebenarnya hanya merupakan inti yang berflagelum. Sperma dihasilkan dalam testis oleh sel-sel khusus yang disebut spermatogonia. Spermatogonia yang bersifat diploid ini dapat membelah diri secara mitosis membentuk spermatogonia atau dapat berubah menjadi spermatosit. Meiosis dari setiap spermatosit menghasilkan empat sel haploid ialah, spermatid. Spermatid ini dalam proses tersebut, kemudian kehilangan banyak sitoplasma dan berkembang menjadi sperma (Kimball, 1996: 360).
Proses pembentukannya disebut spermatogenesis. Spermatogonium yang terletak di paling luar tubulus seminifirus dan yang melekat pada membrane basalis, mengalami mitosis berulang-ulang. Ini tumbuh menjadi spermatosit. Spermatosit mengalami meiosis menjadi spermatid. Spermatid mengalami spermiogenesis menjadi sperma, yang dipelihara oleh sel Sertoli. Satu sel Sertoli memelihara berpuluh spermatid, terletak di daerah puncaknya (Yatim, 1994: 11).

·         Bagian-Bagian Sperma
1.       Kepala
Kepala spermatozoa bentuknya bulat telur dengan ukuran panjang 5 mikron, diameter 3 mikron dan tebal 2 mikron yang terutama dibentuk oleh nukleus berisi bahan-bahan sifat penurunan ayah. Kepala sperma mengandung nukleus. Bagian ujung kepala atau pada bagian anterior kepala spermatozoa terdapat akrosom, suatu struktur yang berbentuk topi yang menutupi dua per tiga bagian anterior kepala dan mengandung beberapa enzim hidrolitik antara lain: hyaluronidase, proakrosin,  akrosin, esterase, asam hidrolase  dan Corona Penetrating Enzim (CPE) yang semuanya penting untuk penembusan ovum (sel telur) pada proses fertilisasi (Anonim, 2009).
Bahan kandungan akrosom adalah setengah padat yang dikelilingi oleh membran akrosom yang terdiri dari dua lapis, yaitu membran akrosom dalam (inner acrosomal membran) dan membran akrosom luar (outer acrosomal membran). Secara molekuler  susunan kedua membran akrosom ini sangat berbeda, membran akrosom luar bersatu dengan plasma membran (membran spermatozoa) pada waktu terjadinya reaksi akrosom sedang membran akrosom dalam menghilang. Bagian ekuatorial akrosom merupakan bagian penting pada spermatozoa, hal ini karena bagian anterior pada akrosom ini yang mengawali penggabungan dengan membran oosit pada proses fertilisasi berubah menjadi spermatid dan akhirnya berubah menjadi spermatozoa (Anonim, 2009).
2.        Ekor
Ekor dibedakan atas 3 bagian, yaitu sebagai berikut:
a.       Bagian tengah (midpiece)
b.      Bagian utama (principle piece)
c.       Bagian ujung (endpiece).
Panjang ekor seluruhnya sekitar 55 mikron dengan diameter yang makin ke ujung makin kecil: di depan 1 mikron, di ujung 0,1 mikron.  Panjang bagian tengah: 5-7 mikron, tebal 1 mikron; bagian utama panjang 45 mikron, tebal 0,5 mikron dan bagian ujung panjang 4-5 mikron, tebal 0,3 mikron.  Bagian ekor tidak bisa dibedakan dengan mikroskop cahaya tetapi harus dengan mikroskop electron (Anonim, 2009).
Mitokondria sebagai pembangkit energi pada spermatozoa.  Principle piece dibungkus oleh sarung fibrous (fibrous sheath) yang perbatasannya disebut anulus.  Sarung fibrous bentuknya terdiri dari kolom ventral dan dorsal yang masing-masing melalui rusuk-rusuk.  Ke arah sentral ada semacam tonjolan yang memegangi cincin nomor 3, 8 dari aksonema.  Keduanya (tahanan rusuk dan pegangan cincin aksonema) memberikan gerak tertentu (Anonim, 2009).

Spermatogenesis
            Pembentukan sel sperma terjadi di dalam testis atau buah zakar. Sperma atau spermatogonium yang bersifat diploid. Selanjutnya, spermatogonium membelah secara mitosis menghasilkan spermatozoidprimer yang juga bersifat diploid. Selanjutnya, spermatozoid*primer membelah reduksi (meiosis) menghasilkan spermatozoid skunder yang haploid. Setelah itu spermatzoid sekunder membelah menhhaslkan spermatid, yaitu calon sperma yang belum mempunyai ekor. Sperma berkembang menjadi spermatozoa yang telah dilengkapi ekor. Setiap spermatozoa terdiri tas bagian ujung yang disebut dengan kepala. Pucuk kepala ini mengandung akrosom yang berisi enzim hialuronidase dan proteinase yang berperan untuk menembus lapisan pelindung sel telur. Bagian temgahnya banyak mengandung mitikondria yang oenting untuk memeobolisasi energi  (Slamet, 2007: 303).


Ketika spermatid di bentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun setelah spermatid memanjang menjadi sperma akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor. Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit sitoplasma. Pad bagian membrane permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom yang berfungsi menembus lapisan ovum  (Diah, 2004: 267).




BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1.  Alat dn Bahan
·         Mikroskop
·         Cawan petri
·         Objek glass
·         Giemsa atau eosin
·         Alat bedah
·         NaCl Fisiologis
·         Testi sapi
·         Testis Mencit

3.2.  Cara Kerja
·         Ambilah cairan yang mengandung spermatozoa yang berasal dari testis, epididimis atau vas deferens pada sapi dan mencit.
·         Jika cairan itu pekat larutkan dengan NaCl fisiologis, kemudian teteskan cairan pada objek glass yang lain dioleskan setipis mungkin dan fiksasi dengan cara melewatkannya di atas api.
·         Warnai dengan Giesma atau eosin selama 3-5 menit. Cuci dengan air mengalir. Selanjutnya keringkan kembali.
Amati di bawah mikroskop


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.  Hasil
·         Spermatozoa Sapi


·         Spermatozoa Mencit




keterangan
Pada tikus

pada sapi







4.2.  Pembahasan
                Spermatozoa ( sperma) yang normal memiliki kepala dan ekor, di mana kepala mengandung materi genetik DNA, dan ekor yang merupakan alat pergerakan sperma. Sperma yang matang memiliki kepala dengan bentuk lonjong dan datar serta memiliki ekor bergelombang yang berguna mendorong sperma memasuki air mani. Kepala sperma mengandung inti yang memiliki kromosom dan juga memiliki struktur yang disebut akrosom. Akrosom mampu menembus lapisan jelly yang mengelilingi telur dan membuahinya bila perlu.


·         Spermatozoa Sapi


Dari pengamatan yang dilakukan, maka pada bagian:

Kepala

Pada sapi, bentuknya sama seperti sperma manusia. Bentuk kepala yaitu oval atau elips, sehingga terlihat berbentuk seperti buah pir. pada bagian ini, dua pertiga anterior dilindungi oleh lapisan yang dimodifikasi protoplasma, yang dinamakan kepala-topi. Dalam beberapa binatang, bagian ini termodifikasi menjadi berduri seperti tombak-proses atau perforator, yang berfungsi untuk memudahkan masuknya spermatozoa ke dalam ovum. Tapi, ada pula bentuk kepala sperma yang seperti mata kail, seperti pada sperma tikus. Bagian posterior kepala menunjukkan ketertarikan untuk reagen tertentu, dan menyajikan penampilan lurik melintang, karena dilintasi oleh tiga atau empat band gelap. Dalam beberapa hewan rodlike sentral filamen memanjang ke depan selama sekitar dua-pertiga dari panjang kepala, sementara di lain tubuh bundar terlihat di dekat pusatnya. Kepala berisi massa kromatin, dan umumnya dianggap sebagai inti sel dikelilingi oleh amplop tipis. Di dalam kepala sperma terdapat acrosome, dan nucleus yang di dalamnya terdapat DNA dan RNA yang membawa gen keturunan.

Leher/ mid piece

Leher kurang terbatas dalam spermatozoa manusia dibandingkan pada mereka dari beberapa hewan yang lebih rendah. Anterior sentriol, yang diwakili oleh dua atau tiga partikel yang bulat, terletak di persimpangan kepala dan leher, dan di belakangnya adalah sebuah band dari substansi yang homogen, yang menghubungkan tubuh bagian atau batang seperti, dan dibatasi oleh terminal belakang disk. Sentriol posterior ditempatkan di persimpangan tubuh dan leher dan, seperti anterior, terdiri dari dua atau tiga partikel bulat. Sentriol ini aksial filamen, dikelilingi oleh selubung, berjalan mundur melalui tubuh dan ekor. Dalam selubung tubuh dari filamen aksial dikelilingi oleh benang spiral, sekitar yang merupakan amplop yang berisi butir mitokondria, dan mitokondria disebut selubung.
Ekor/ flagel


Ekor yang sangat panjang, dan terdiri dari benang atau aksial filamen, dikelilingi oleh sarungnya, yang mungkin berisi spiral benang atau mungkin menyajikan penampilan lurik. Bagian terminal atau akhir-potongan ekor terdiri dari filamen aksial saja. Ekor  pada sperma berfungsi sebagai alat gerak.

·         Spermatozoa tikus
Perbesaran 800x (Wyrobek and Bruce, 1975).
 (a) spermatozoa normal, (b) pengait salah membengkok, (c) sperma melipat, (d) kepala terjepit, (e) pengait pendek, (f) kesalahan ekor sebagai alat tambahan, (g) tidak ada penggait, (h) sperma berekor ganda dengan kepala tidak berbentuk, (i) kepala tidak berbentuk. 
a.         Head
Menentukan bentuk kepala spermatozoa dan tergantung pada spesies hean yang yang di amati. Kutub anterior inti tertutup oleh tudung akrosom yang mengandung sejumlah enzim hidrolitik, misalnya hyaluronidase yang berfungsi untuk melepaskan asam hyaluronic, dan acrosin berupa acrosome yang befungsi menembus dinding zona pellucida. Enzim tersebut diperlukan untuk menembus dinding zona pellucida agar spermatozoa dapat masuk sel telur untuk proses pembuahan. Kepala terutama terdiri dari nukleus, yang mengandung informasi genetik
b.         Midpiece
Pada bagian leher sebagian besar berbentuk pendek dan sempit, terletak antara kepala dan badan, berdiri dari senteriol yang terletak sentral dengan serabut tepi kasar tersusun memanjang, berlanjut dengan serabut luar pada badan spermatozoa.
c.         Flagelum
Pusat badan memiliki struktur flagelum yang khas : dua buluh mikro sentral dan Sembilan pasang buluh mikro perifer yang membentuk komplek filamen aklsial. Mereka di kelilingi oleh Sembilan serabut luar yang memipih , tersusun longitudinal yang berhubungan dengan serabut penhubung. Selanjutnya dikelilingi oleh mitokondria dengan jalinan mengulir berbentuk cincin yang menebal pada badan menandai batas antara badan dan ekor utama
d.        Tail
Tail merupakan bagian ekor spermatozoa yang paling panjang. Struktur komplek filamen aksial mirip dengan bagian badan dan dikitari oleh kelanjutan serabut bagian badan. Serabutnya bervariasi menurut ukuran,bentuk dan memipih kearah ekor . Rusuk semisiskular struktur protein pada susunan mengulir melebur dengan dua serabut luar membentuk selubung fibrosa tapi yang khas untuk bagian ekor utama.
e.         End piece

Selubung fibrosa terminal menandai awal dari ujung ekor yang hanya mengandung kompleks filament aksial .Kearah proksimal ujung ekor ,komplek ini memiliki ciri khas susunan Sembilan-tambah-dua:kearah distal ,pasangan dua tepi secara bertahap berkurang menjadi tunggal serta berakhir pada beberapa permukaan























BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN

Spermatozoa adalah sel gamet dari laki-laki. Sel ini mempunyai ukuran panjang keseluruhan 50-60 mikrometer, dimana terdiri tiga bagian yaitu bagian kepala, bagian tengah (leher) dan ekor. Kepala sperma mengandung nukleus. Bagian ujung kepala atau pada bagian anterior kepala spermatozoa terdapat akrosom, suatu struktur yang berbentuk topi yang menutupi dua per tiga bagian anterior kepala dan mengandung beberapa enzim hidrolitik. Ekor dibedakan atas 3 bagian yaitu bagian tengah (midpiece), bagian utama (principle piece), bagian ujung (endpiece). Proses pembentukan sel sperma atau spermatogenesis dilakukan melalui 3 fase yaitu  fase pertumbuhan fase pembelahan dan fase diferensiasi (Anonim, 2009).
























DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.Spermatozoid. http://id.wikipedia.org/wiki/Spermatozoid. 25-05-2013. 11:32
Budisma.Materi Sma Keas XI Biologi, proses pembentukan spermatozoa spermatogenesis.25-05-2013.
11:02.
                25-05-2013. 09.30
Haerani,Nunung .2009. embriologi hewan spermatogenesis.
                25-05-2013. 09:08
Kurr, Ayunkurr. 2011. Pengamatan sel kelamin.
26-05-2013. 00:16
Nickyeztu. 2012. Laporan embriologi spermatogenesis.
                25-05-2013. 09:30.


               





Mengukur panjang foetus


LAPORAN PRATIKUM
“CARA MENGUKUR PANJANG FOETUS”


Kelompok I


AHLUL KARMI
ANNA FARIDA
CUT ERIKA
DEBY NOVITA
NELLY KARTIKA
PUTRI DEWI
RAMA JUWITA FITRI
TRIMARSIDAH







FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH




KATA PENGANTAR


Puji Syukur penulis ucapkan terhadap kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga berkat karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan paratikum  "CARA MENGUKUR PANJANG FOETUS" tanpa ada halangan yang berarti dan selesai tepat pada waktunya.
Dalam Penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada
1.    Drh. Dian masyitah,M.P sebagai kepala laboratorium embriologi
2.    Awaluddin sebagia coordinator asisten laboratorium embriologi
3.    Ira khubaira sebagai asisten  laboratorium embriologi
4.    Teman-teman yng telah berpatisiasi dalam prtaikum embriologi
Penulis sadar laporan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis berharap kritik dan saran semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan seluruh pembaca pada umumnya.
Banda Aceh, 19 Mei 2013
                                                                       


                                                                                                                                  Penulis 



Embrio dan foetus berkembang mengikuti suatu pola tertentu. Pada awalnya, jumlah sel meningkat diikuti oleh diferensiasi dan perkembangan berbagai system organ. Pada berbagai ternak memiliki perkiraan umur yang berbeda-beda.







BAB I

PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan individu baru selama kebuntingan merupakan hasil dari perbanyakan jumlah sel, pertumbuhan, perubahan susunan serta fungsi sel. Peristiwa tadi mempengaruhi perubahan-perubahan tertentu, beberapa di antaranya merupakan ciri dari tahap perkembangannya. Meskipun perkembangan anak dalam kandungan berlangsung terus menerus, namun kebuntingan kadang-kadang dinyatakan terdiri dari 3 tahap yaitu periode ovum, periode embrio dan periode fetus.
Berdasarkan uraian diatas, sebagai mahasiswa harus memahami benar tentang metode pengukuran panjang foetus untuk mengetahui umur dari masing-masing tenak . Dalam makalah ini akan dibahas mengenai foetus, fase foetus dan metode pengukuran umur foetus.

1.2     Tujuan

1.      Bagaimana tahap pertumbuhan foetus?
2.      Bagaimana cara menentukan umur foetus pada berbagai hewan ternak?
3.      Metode apa yang digunakan untuk menentukan umur foetus?

1.3     Manfaat

Mahasiswa mengetahui rasio ukuran foetus dan berat foetus berdasarkan usia kebuntingan.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Foetus adalah mamalia yang berkembang setelah fase embrio dan sebelum kelahiran Dalam bahasa latin, fetus secara harfiah dapat diartikan "berisi bibit muda, mengandung". (anonimus.2011)
Fetus adalah hasil akhir dari suatu proses diferensiasi secara teratur yangmerubah zigot bersel 1 menjadi suatu reflikasi dari jenis hewan yangbersangkutan. Selama permulaan cleavage pada suatu sel telur yang telah dibuahi,ukuran sel tersebut berkurang secara progresif dengan sedikit perubahan bentuk.Selama akhir perkembangan embrional ukuran sel tidak merubah secara nyatasedangkan jumlah sel bertambah (Feradis, 2010).
Periode ini di mulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam,terbentuknya ekstremitas, hingga lahir. Pada sapi periode ini terjadi pada hari ke45 dan selama periode ini terjadi perubahan dan diferensiasi organ, jaringan, dansistem tubuh (Toelihere, 1979).

Pertumbuhan prenatalis pada sapi dimulai sejak terjadinya konsepsi yakni saat pertemuan sel telur betina dengan sel jantan, bersatunya sel jantan dan sel telur tadi mengasilkan calon individu baru di dalam kandungan yang disebut embrio atau foetus. Pada awal kebuntingan pertumbuhan foetus berjalan sangat lambat, sedangkan pada akhir kebuntingan pertumbuhan berlangsung sangat cepat. Foetus, hampir 2/3 bagian bagian pertumbuhan hanya berlangsung 1/3 dari dari seluruh waktu yang digunakan dalam kandungan  (Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Periode kebuntingan dapat di bagi secara kasar dalam tiga bahagian, berdasarkan ukuran individu dan pekembangan jarigan dan organnya. Ketiga periode itu adalah ovum, embrio dan foetus. Periode ovum atau blastula berlangsung 10 – 12 hari, selak waktu pembuahan yang biasanya terjadi beberapa jam sesudah ovulasi sampai pembentukan membrane zygote dalam uterus. Periode embrio/foetus atau organogenesis berlangsung 12 – 45 hari masa kebuntingan. (Barnes, Waikel Villee. 1984)
Selama periode ini, organ dan system utama tubuh berbentuk dan terjadi perubahan- perubahan dalam bentuk tubuh sehingga pada akhir periode ini spesies embrio/foetus tersebur dapat dikenal. (Anonim. 2006)
Periode foetus dan pertumbuhan foetus berlangsung dari hari ke-45 masa kebuntingan sampai partus. Selama periode ini terjadi perubahan- perubahan kecil dalam diferensiasi organ, temuan, dan system bersamaan dengan pertumbuhan dan pematangan individu antenatal. Selama periode ini caruncel dan cotyledon berkembang dan membesar untuk mensuplai makanan bagi foetus. Pertambahan berat foetus dari hari ke-120 sampai hari ke-270 adalah tiga kali lebih besar dari pada pertambahan berat badan dari waktu pembuahan sampai hari ke-120 masa kebuntingan. Pada permulaan periode foetus terbentuk kelopak mata, osifikasi tulang dimulai, dan perubahan- perubahan cepat terjadi pada rupa dan ukuran kaki. (Patten, M. Bradley. 1964)
Pada masa akhir kebuntingan anak ternak yang normal telah berkembang sedemikian rupa sehingga ia sanggup hidup di lingkungan cairan dan saluran pencernaan serta saluran pernafasannya siap untuk mulai fungsi dan tanggung jawabnya.









BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1         Alat dan Bahan
1.        Baki alumunium
2.        Penggaris
3.        Pinset
4.        Foetus sapi atau kambing yang telah diawetkan

3.2         Cara Kerja

1.      Foetus yang telah disediakan dikeluarkan dari dalam stoples dan diletakkan di atas baki alumunium
2.      Dilakukan pengukuran dengan cara CC-R dan SC-R
3.      Pengukuran CC-R dilakukan dengan cara mengukur panjang saluran tubuh foetus dimulai dari pangkal ekor berbentuk kurva sampai forehead
4.      Pengukuran SC-R dilakukan dengan cara mengukur panjang tubuh foetus mulai dari pangkal ekor berbentuk garis lurus sampai forehead. Cara ini yang sering digunakan
5.      Catat hasil pengukuran












BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
       CCR

SCR

Metode
Umur
Hari
Bobot-badan (kg)
Panjang (cm)
Panjang
Ratio

Ratio
kepala
tubuh
Kd
Kb
C-C-R
180
5kg-8kg
62
14,5         47,5
14,5:47,5
30        32
15:16
S-C-R
180
5kg-8kg
48
19             29
19:29
27       29
27:27


4.2  PEMBAHASAN

Kebuntingan berarti keadaan dimana anak sedang berkembang di dalam uterus seekor hewan betina. Suatu interval waktu, yang disebut periode kebuntingan (gestasi), dimulai dari saat pembuahan (fertilisasi) ovum, sampai lahirnya anak. Hal ini mencakup fertilisasi, atau persatuan antara ovum dan sperma; nidasi atau implantasi, atau perkembangan membran fetus; dan berlanjut ke pertumbuhan fetus (Frandson, 1992).
   Yang dimaksud periode ovum adalah ovum yang diovulasikan sampai terjadinya fertilisasi. Dari sejak fertilisasi, implantasi sampai terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam disebut periode embrio; sedangkan  Seluruh penghidupan makhluk baru dalam uterus disebut periode embrio (Partodihardjo, 1982).

Keadaan Karakteristik foetus (bovine)
Dalam Masa Kandungan


UMUR (BULAN)
PANJANG FOETUS (cm)
BERAT (g)
SIFAT FETAI/PLASENTA
1
0,8-1
0,3-0,5
Pucuk kepala dan kaki jelas, plasenta belem bertaut
2
6-8
10-30
Pucuk teracak, skrotum kecil, plasenta terpaut
3
13-17
200-400
Rambut pada vivir, dagu, dan kelopak mata, skrotum pada jantan
4
27-32
1000-2000
Teracak, berkembang warna kuning, ada legok bakal tanduk
5
30-45
3000-4000
Rambut pada alis, bibir, testes dalam skrotum, puting susu
6
40-60
5000-10000
Rambut dibagian dalam telinga, sekeliling legok tanduk, ujung ekor, dan moncong
7
55-25
8000-18000
Rambut pada meta tarsal, meta carpal phalanx dan punggung, rambut panjang pada ekor
8
75-85
15000-25000
Rambut pendek, halus diseluruh tubuh
9
20-100
20000-50000
Rambut panjang sempurna diseluruh tubuh, gigi seri normal, foetus besar

Foetus yang banyak pada jenis hewan monotokus mempunyai masa kebuntingan yang lebih singkat. Anak sapi kembar berada dalam kandungan 3-6 hari kurang dari anak sapi tunggal. Faktor yang mempengaruhinya yaitu: lingkungan, perpanjangan masa kebuntingan  pada kuda sesudah perkawinan di musim dingin dinyatakan disebabkan oleh penundaan implantasi. Akan tetapi, perbedaan musim tidak mempengaruhi masa kebuntingan pada sapi perah.
Kelenjar hormon yang terlibat dalam fase kebuntingan: corpus luteum, plasenta, folikel, hipotalamus dan hipofisa. Kelenjar endokrin yang lain, misalnya thyroid, adrenal dan sebagainya.
 Amnion  adalah selaput yang menylubungi fetus bagian paling dalam Amnion berfungsi sebagai pelindung embrio/fetus menjadi kering, mencegah perlekatan embrio atau foetus terhadap selaput lain, dan sarana pengangkut zat makanan dan oksigen ke foetus, chorion adalah selaput yang menyelubungi fetus bagian paling luar, alllantois adalah selaput antaraamnion dan chorion. . Alantois berfungsi sebagai kantung air kencing ekstra emrional dan sarana penampung sisa hasil metabolisme. Bentuk plasenta induk adalah endometrium uterus yang dikenal dengan Korunkula, dan bagian plasenta foetus adalah chorioallantois dikenal dengan kotiledon. (Sumaryadi, 2003)
Menurut Frandson tahun 1992, uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri  dari corpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk atau kornua. Pada uterus sapi tampak relatif lebih besar dibandingkan dengan keadaan yang sebenarnya, karena bagian kaudal dan tanduk tergabung dengan ligamen interkornual. (Toelihere, 1981)
Fase foetus ditentukan mulai dari terbentuknya organogenesis dan terbentuknya anggota gerak (ekstremitas) sampai foetus lahir. Tingkat perkembangan foetus saat ini telah dapat mengekstraksi zat-zat makanan dari sistem sirkulasi induk dengan perantara plasenta.
Hasil yang di dapat setelah melakukan praktikum “ metode pengukuran panjang foetus”
Dengan metode :
a)      Curved Crown-Rump (CC-R)                                                                                    Yaitu pengukuran dilakukan dengan cara mengukur panjang seluruh tubuh foetus dimulai dari pangkal ekor berbentuk garis kurva forehead. (cara ini tidak lazim digunakan).
b)      Sraight Crown-Rump (SC-R)                                                                                     Yaitu dengan mengukur panjang tbuh foetus dimulai dari pangkal ekor berbentuk garis lurus sampai forehead. (Cara inilah yang sering digunakan).

Kriteria utama untuk menentukan umur foetus adalah waktu kopulasi dan ovulasi atau berat dan panjang foetus, suatu pengukuran diambil dari ujung hidung sampai ekor melalui punggung pada suatu daratan sagital. Panjang kaki atau kepala dipakai dalam penentuan umur foetus sapi . semua metode ini dapat bervariasi karena waktu ovulasi yang tepat tidak dapat ditentukan, sedangkan pengukuran berat dan panjang foetus tergantung pada bagian bangsa,  strain, umur induk, ukuran litter dan musim kelahiran.








BAB V
PENUTUP

KESIMPULAN
1.      Uterus merupakan tempat pertumbuhan fetus. Uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri  dari corpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk atau cornua.
2.      Foeus yang diukur adalah foetus umur 180 hari, dan berat badan berkisar antara 5kg-8kg.
3.      Dua metode yang digunakan dalam pengukuran panjang foetus (CC-R) dan SC-R.









DAFTAR PUSTAKA


Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Partodihardjo, Soebadi. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara. Jakarta.


Salisbury, G. W. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Iseminasi Buatan Pada Sapi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sumaryadi, Mas Yedi dkk. 2003. Ilmu Reproduksi Ternak. Fapet Unsoed. Purwokerto

Toelihere, Mozes. R. 1977. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung


Tim Pengajar Embriologi. 2013. Penuntun praktikum histologi.Fakultas kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh